Selasa, 29 November 2016

Sejarah Uhang Pandak Di Gunung Kerinci

Orang Pendek adalah misteri sejarah alam terbesar di Asia; ahli binatang telah mendaftarkan laporan penampakan kera misterius di wilayah Taman Nasional Kerinci Seblat, Propinsi Jambi, lebih dari 150 tahun lalu. Sampai hari ini, mahluk yang di Kerinci dikenal sebagai “uhang pandak”, tetapi juga karena variasi yang membingungkan dari nama dialek setempat, sampai sekarang masih belum teridentifikasi oleh ilmuwan.

Orang pendek ialah nama yang diberikan kepada seekor binatang (manusia?) yang sudah dilihat banyak orang selama ratusan tahun yang kerap muncul di sekitar Taman Nasional Kerinci Seblat, Jambi. Walaupun tak sedikit orang yang pernah melihatnya, keberadaan orang pendek hingga sekarang masih merupakan teka-teki. Tidak ada seorangpun yang tahu, sebenarnya makhluk jenis apakah yang sering disebut sebagai orang pendek itu.

Tidak pernah ada laporan yang mengabarkan bahwa seseorang pernah menangkap atau bahkan menemukan jasad makhluk ini, namun hal itu berbanding terbalik dengan banyaknya laporan dari beberapa orang yang mengatakan pernah melihat makhluk tersebut. Sekedar informasi, Orang pendek ini masuk kedalam salah satu studi Cryptozoology.
Ekspediasi pencarian Orang Pendek sudah beberapa kali di lakukan di Kawasan Kerinci, Salah satunya adalah ekspedisi yang didanai oleh National Geographic Society. National Geographic sangat tertarik mengenai legenda Orang Pendek di Kerinci, Jambi, beberapa peneliti telah mereka kirimkan kesana untuk melakukan penelitian mengenai makhluk tersebut.


Adapun cerita mengenai orang pendek pertama kali ditemukan dalam catatan penjelajah Marco Polo tahun 1292, saat ia bertualang ke Asia. Walau diyakini keberadaannya oleh penduduk setempat, makhluk ini dipandang hanya sebagai mitos oleh para ilmuwan, seperti halnya yeti di Himalaya dan monster Loch Ness Inggris Raya.

Sejauh ini, para saksi yang mengaku pernah melihat Orang Pendek menggambarkan tubuh fisiknya sebagai makhluk yang berjalan tegap (berjalan dengan dua kaki) tinggi sekitar satu meter (diantara 85 cm hingga 130 cm) dan memiliki banyak bulu diseluruh badan. Bahkan tak sedikit pula yang menggambarkannya dengan membawa berbagai macam peralatan berburu, seperti semacam tombak.
Legenda Mengenai Orang Pendek sudah secara turun temurun dikisahkan di dalam kebudayaan masyarakat Suku anak dalam. Mungkin bisa dibilang, Suku Anak Dalam sudah terlalu lama berbagi tempat dengan para Orang Pendek di kawasan tersebut. Walaupun demikian, jalinan sosial diantara mereka tidak pernah ada. Sejak dahulu Suku Anak Dalam bahkan tidak pernah menjalin kontak langsung dengan makhluk-makhluk ini, mereka memang sering terlihat, namun tak pernah sekalipun warga dari suku anak dalam dapat mendekatinya.

Ada suatu kisah mengenai keputusasaan para Suku Anak Dalam yang mencoba mencari tahu identitas dari makhluk-makhluk ini, mereka hendak menangkapnya namun selalu gagal. Pencarian lokasi dimana mereka membangun komunitas mereka di kawasan Taman Nasional juga pernah dilakukan, namun juga tidak pernah ditemukan.
Awal tahun 1900-an, dimana saat itu Indonesia masih merupakan jajahan Belanda, tak sedikit pula laporan datang dari para WNA. Namun yang paling terkenal adalah Kesaksian Mr. Van Heerwarden di tahun 1923. Mr. Van Heerwarden adalah seorang zoologiest, dan disekitar tahun itu ia sedang melakukan penelitian di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat.

Pada suatu catatan kisahnya, ia menuliskan mengenai pertemuannya dengan beberapa makhluk gelap dengan banyak bulu di badan. Tinggi tubuh mereka ia gambarkan setinggi anak kecil berusia 3-4 tahun, namun dengan bentuk wajah yang lebih tua dan dengan rambut hitam sebahu. Mr. Heerwarden sadar mereka bukan sejenis siamang maupun perimata lainnya. Ia tahu makhluk-makhluk itu menyadari keberadaan dirinya saat itu, sehingga mereka berlari menghindar. Satu hal yang membuat Mr. Heerwarden tak habis pikir, semua makhluk itu memiliki persenjataan berbentuk tombak dan mereka berjalan tegak. Semenjak itu, Mr. Heerwarden terus berusaha mencari tahu makhluk tersebut, namun usahanya selalu tidak berbuah hasil.
Sumber-sumber dari para saksi memang sangat dibutuhkan bagi para peneliti yang didanai oleh National Gographic Society untuk mencari tahu keberadaan Orang Pendek. Dua orang peneliti dari Inggris, Debbie Martyr dan Jeremy Holden sudah lama mengabadikan dirinya untuk terus menerus melakukan ekspedisi terhadap eksistensi Orang Pendek. Namun, sejak pertama kali mereka datang ke Taman Nasional Kerinci di tahun 1990, sejauh ini hasil yang didapat masih jauh dari kata memuaskan.

Lain dengan peneliti lainnya, Debbie dan Jeremy datang ke Indonesia dengan dibiayai oleh Organisasi Flora dan Fauna Internasional. Dalam ekspedisi yang dinamakan “Project Orang Pendek” ini, mereka terlibat penelitian panjang disana. Secara sistematik, usaha-usaha yang mereka lakukan dalam ekspedisi ini antara lain adalah pengumpulan informasi dari beberapa saksi mata untuk mengetahui lokasi-lokasi di mana mereka sering dikabarkan muncul. Kemudian ada metode menjebak pada suatu tempat dimana disana terdapat beberapa kamera yang selalu siap untuk menangkap aktivitas mereka. Rasa putus asa dan frustasi selalu menghinggap di diri mereka ketika hasil ekspedisi selama ini belum mendapat hasil yang memuaskan.

Beberapa pakar Cryptozoology mengatakan bahwa Orang Pendek mungkin memiliki hubungan yang hilang dengan manusia. Apakah mereka merupakan sisa-sisa dari genus Australopithecus?
Banyak Paleontologiest mengatakan bahwa jika anggota Australopithecus masih ada yang bertahan hidup hingga hari ini, maka mereka lebih suka digambarkan sebagai seekor siamang. Pertanyaan mengenai identitas Orang Pendek yang banyak dikaitkan dengan genus Australopitechus ini sedikit pudar dengan ditemukannya fosil dari beberapa spesies manusia kerdil di Flores beberapa waktu yang lalu.

Fosil manusia-manusia kerdil “Hobbit” berjalan tegak inilah yang kemudian disebut sebagai Homo Floresiensis. Ciri-ciri fisik spesies ini sangat mirip dengan penggambaran mengenai Orang Pendek, dimana mereka memiliki tinggi badan tidak lebih dari satu seperempat meter, berjalan tegak dengan dua kaki dan telah dapat mengembangkan perkakas/alat berburu sederhana serta telah mampu menciptakan api. Homo Floresiensis diperkirakan hidup diantara 35000 – 18000 tahun yang lalu.
Apakah Orang Pendek benar-benar merupakan sisa-sisa dari Homo Floresiensis yang masih dapat bertahan hidup? Secara jujur, para peneliti belum dapat menjawabnya. Peneliti mengetahui bahwa setiap saksi mata yang berhasil mereka temui mengatakan lebih mempercayai Orang Pendek sebagai seekor binatang. Debbie Martyr dan Jeremy Holden, juga mempertahankan pendapat mereka bahwa Orang Pendek adalah seekor siamang luar biasa dan bukan hominid.

Sejarah Berdirinya Provinsi Jambi




Pada tanggal 9 agustus 1957 presiden RI Ir. Soekarno akhirnya mendatangani di denpasar bali UU Darurat No. 19 tahun 1957 tentang pembentukan provinsi sumatera barat, Riau dan Jambi. Dengan UU No. 61 tahun 1958 tanggal 25 juli 1958 UU Darurat No. 19 tahun 1957 tentang pembentukan daerah sumatera Tingkat 1 Sumatera Barat, Djambi dan Riau (UU tahun 1957 No. 75) sebagai undang-undang

Dalam UU No. 61 tahun 1958 di sebutkan pada pasal 1 huruf b, bahwa daerah Swantantra tingkat 1 Jambi wilayahnya mencakup wilayah daerah Swantantra tingkat II Batanghari, Merangin, dan Kota Praja Jambi serta kecamatan-kecamatan Kerinci Huku, Tengah dan Hilir

Kelanjutan UU. No. 61 tahun 1958 tersebut pada tanggal 19 desember 1958 Mandagri Sanoesi Hardjadinata mengangkat dan menetapkan Djamin gr. Datuk Bagindo Residen Jambi sebagai Dienst Doend DD Gubernur (residen yang di tugaskan sebagai Gubernur Provinsi Jambi dengan SK nomor UP/5/8/4). Pejabat Gubernur pada tanggal 30 Desember 1958 meresmikan berdirinya Provinsi Jambi atas nama Mendagri di Gedung Nasional Jambi (sekarang gedung BKOW). Kendati dujure Provinsi jambi di tetapkan dengan UU darurat 1957 dan kemudian UU NO.61 tahun 1958 tetapi dengan pertimbangan sejarah asal-usul pembentukannya oleh masyarakat jambi melalui BKRD maka tanggal keputusan BKRD 6 januari 1957 di tetapkan sebagai hari jadi Provinsi Jambi, sebagaimana tertuang dalam peraturan daerah provinsi Djambi Nomor. 1 tahun 1970 tanggal 7 juni 1970 tentang Hari Lahir Provinsi Djambi

SEJARAH BERDIRINYA PROVINSI JAMBI

Dengan berakhirnya masa kesultanan jambi menyusul gugurnya Sultan Thaha Saifudin tanggal 27 April 1904 dan berhasilnya belanda menguasai wilayah-wilayah kesultanan jambi, maka jamb ditetapkan sebagai kepresidenan dan masuk dalam wilayah nederlandsch indie. Residen jambi pertama adalah O.L Helfirch yang di angkat berdasarkan keputusan gubernur jenderal belanda NO.20 tanggal 4 mei 1906 dan pelantikannya di laksanakan 2 juli 1906
Kekuasaan belanda atas jambi berlangsung ±36 tahun karena pada tanggal 9 maret 1942 terjadi peralihan kekuasaan kepada pemerintahan jepang. Pada 14 agustus 1945 jepang menyerah kepada sekutu. Tanggal 17 agustus 1945 di proklamasikanlah negara republik indonesia. Sumatera di saat proklamasi tersebut menjadi satu provinsi yaitu sumatera dan medan sebagai ibukotanya dan MR.Teuku Muhammad Hasan di tunjuk memegangkan jabatan gubernurnya
Pada tanggal 18 April 1946 Komite Nasional indonesia sumatera bersidang di bukit tinggi memutuskan provinsi sumatera terdiri dari tiga Sub Provinsi yaitu Sub Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Tengah dan Sumatera Selatan

Sub provinsi Sumatera Tengah mencakup keresidenan Sumatra Barat, Riau dan Jambi. Tarik menarik keresidenan jambi untuk masuk ke sumatera selatan atau sumatera tengah ternyata cukup alot dan akhirnya di tetapkan dengan pemungutan suara pada sidang Komite Nasional indonesia sumatera tersebut dan keresidenan jambi masuk ke sumatera Tengah. Sub-sub provinsi dari provinsi sumatera ini kemudian dengan undang-undang nomor 10 tahun 1948 di tetapkan sebagai Provinsi
Dengan UU.No.22 tahun 1948 tentang pokok-pokok pemerintahan daerah keresidenan jambi saat itu terdiri dari 2kabupaten dan 1 kota praja Jambi. Kabupaten-kabupaten tersebut adalah kabupaten merangin yang mencakup kewedanaan muaro tebo, muaro bungo, bangko dan batanghari terdiri dari kewedanaan muara tembesi, jambi luar kota, kuala tungkal, banyak pemuka masyarakat yang ingin keresidenan jambi untuk menjadi bagian sumatera selatan dan dibagian lain ingin tetap bahkan apa yang ingin berdiri sendiri, terlebih dari itu, kerinci kembali dihendaki masuk keresidenan jambi, karena sejak tanggal 1 juni 1922 yang tadinya bagian dari kesultanan Jambi di masukkan ke residenan sumatera Barat tepatnya jadi bagian dari kabupaten pesisir selatan dan kerinci (PSK)

Tuntutan keresidenan jambi menjadi daera tingkat I provinsi diangkat dalam pernyataan bersama antara himpunan pemuda merangin batanghari(HP,MERBAHARI) dengan front pemuda jambi(FROPEJA) tanggal 10 April 1954 yang di serahkan langsung kepada Bung Hatta, Wakil Presiden di bangko, yang ketika itu berkunjung kesana. Penduduk jambi saat itu tercatat kurang lebih 500.000 jiwa(tidak termasuk kerinci)
Keinginan tersebut di wujudkan kembali dalam kongres Pemuda se-Daerah jambi 30 April – 3 Mei 1954 dengan mengutus tiga orang delegasi yaitu, Rd.abdullah, AT Hanafiah dan H.Said serta seorag penasehat delegrasi yaitu, bapak.syamsu bahrun menghadap mendagri Prof. DR.MR Hazairin
Berbagai kebulatan tekad setelah itu bermunculan baik oleh berbagai gabungan partai politik, dewan pemerintahan Marga, Dewan Perwakilan Rakyat daerah Merangin, Batanghari. Puncaknya pada kongres rakyat jambi 14-18 juni 1955 di gedung bioskop Murni terbentuklah wadah perjuangan Rakyat Jambi bernama Badan Kongres Rakyat Jambi (BKRD) untuk mengupayakan dan memperjuangkan Jambi di daerah Otonomi Tingkat 1 Provinsi Jambi 

Kongres Pemuda se-daerah jambi tanggal 2-5 januari 1957 mendesak BKRD menyatakan keresidenan Jambi de facto menjadi provinsi selambat-lambatnya tanggal 9 januari 1957
Sidang pieno BKRD tanggal 6 januari 1957 pukul 02:00 dengan resmi menetapkan keresidenan jambi Daerah Otonomi Tingkat 1 Provinsi yang berhubungan langsung dengan pemerintah pusat dan keluar dari provinsi Sumatera Tengah. Dewan Banteng selaku penguasa pemerintah provinsi sumatera tengah yang telah mengambil alih pemerintahan provinsi sumatera tengah dari gubernur Ruslan Mulyohardjo pada tanggal 9 januari 1957 menyetujui keputusan BKRD

Pada tanggal 8 agustus 1957 ketua Dewan Banteng Letkol Ahmad Husein melantik Residen Djamin gr. Datuk Bagindo sebagai acting gubernur dan H. Hanafi sebagai wakil Acting Gubernur provinsi Djambi, dengan staf 11 orang, yaitu Nuhan, Rd. Hasan Amin, M.Adnan Kasim, H.A. Manap ,Salim,Syamsu Bahrun, Kms. H.A.Somad. Rd. Suhur, Manan , Imron Nungcik dan Abd Umar yang di kukuhkan dengan SK.No.009/KD/U/L KPTS. Tertanggal 8 ferbuari 1957 dan sekaligus meresmikan berdirinya provinsi jambi di halaman rumah Residenan Jambi (kini Gubernuran Jambi)

Pada tanggal 9 agustus 1957 presiden RI Ir. Soekarno akhirnya mendatangani di denpasar bali UU Darurat No. 19 tahun 1957 tentang pembentukan provinsi sumatera barat, Riau dan Jambi. Dengan UU No. 61 tahun 1958 tanggal 25 juli 1958 UU Darurat No. 19 tahun 1957 tentang pembentukan daerah sumatera Tingkat 1 Sumatera Barat, Djambi dan Riau (UU tahun 1957 No. 75) sebagai undang-undang
Dalam UU No. 61 tahun 1958 di sebutkan pada pasal 1 huruf b, bahwa daerah Swantantra tingkat 1 Jambi wilayahnya mencakup wilayah daerah Swantantra tingkat II Batanghari, Merangin, dan Kota Praja Jambi serta kecamatan-kecamatan Kerinci Huku, Tengah dan Hilir

Kelanjutan UU. No. 61 tahun 1958 tersebut pada tanggal 19 desember 1958 Mandagri Sanoesi Hardjadinata mengangkat dan menetapkan Djamin gr. Datuk Bagindo Residen Jambi sebagai Dienst Doend DD Gubernur (residen yang di tugaskan sebagai Gubernur Provinsi Jambi dengan SK nomor UP/5/8/4). Pejabat Gubernur pada tanggal 30 Desember 1958 meresmikan berdirinya Provinsi Jambi atas nama Mendagri di Gedung Nasional Jambi (sekarang gedung BKOW). Kendati dujure Provinsi jambi di tetapkan dengan UU darurat 1957 dan kemudian UU NO.61 tahun 1958 tetapi dengan pertimbangan sejarah asal-usul pembentukannya oleh masyarakat jambi melalui BKRD maka tanggal keputusan BKRD 6 januari 1957 di tetapkan sebagai hari jadi Provinsi Jambi, sebagaimana tertuang dalam peraturan daerah provinsi Djambi Nomor. 1 tahun 1970 tanggal 7 juni 1970 tentang Hari Lahir Provinsi Djambi

Sejarah Tari Asek

Kabupaten Kerinci yang berada di propinsi Jambi, terkenal dengan keindahan alam dan budayanya. Selain daerah yang sejuk, kabupaten Kerinci juga memiliki seni budaya yang unik dan menarik, salah satunya adalah seni tari.
  Seni tari yang berkembang di daerah ini sebagian besar merupakan peninggalan tradisi pada zaman nenek moyang, yang tentunya masih berkembang sampai saat ini. Seni tari tersebut diantaranya: tari Rangguk, Sikapur Sirih, Asyek, Iyo-Iyo, Rentak Kudo dan masih banyak lagi. Di samping itu, terdapat juga tari kreasi baru yang berkembang di daerah ini. Hal ini dapat dilihat banyaknya seniman baru yang berkembang saat ini. Mereka berupaya mengembangkan dan melestarikan tari tradisi yang ada, dengan cara mengolah kembali ke dalam bentuk tari kreasi baru sesuai dengan perkembangan zaman. Namun, diantara tarian tersebut ada satu tarian yang sangat unik yaitu tari Asyek.
 
Masyarakat daerah Kerinci menyebutnya dengan tari Asyek, Asik atau Asaik. Kata Asyek berasal dari kata asik. Jenis tari Asyek ini adalah salah satu tari tradisi yang dulunya digunakan sebagai tari dalam upacara yang berkaitan dengan pemujaan roh-roh nenek moyang dan memiliki unsur magis. Tari Asyek memiliki bermacam-macam jenisnya sesuai dengan tujuan upacara yang dilakukan. Jenis tari Asyek yang masih berkembang saat ini adalah tari Niti Naik Mahligai, Mahligai Kaco, Tolak Bala, Gagah Harimau, Mandi Taman, Mintak Lamat,  Mandi malimau dan masih banyak lagi yang lainnya.
 
 
Tari Niti Naik Mahligai yang merupakan jenis tari Asyek berkembang di daerah kecamatan Gunung Kerinci tepatnya di desa Siulak Mukai Tengah. Tari Niti Naik Mahligai termasuk jenis tari tradisional yang mengutarakan “kehendak” dan bersifat magis. Menurut Eva Bram (2006) saat ini yang menjadi seorang pawang tari Niti Naik Mahligai, menjelaskan bahwa tari Niti Naik Mahligai berasal dari kata Niti artinya berjalan di atas suatu benda, naik artinya menuju sesuatu yang tertinggi dan mahligai adalah tahta atau istana. Tari Niti Naik mahligai memiliki makna tarian yang dilakukan secara khusuk untuk mencapai sebuah tujuan yaitu memperoleh tahta atau istana. Tari ini dulunya digunakan dalam upacara pemujaan yaitu upacara adat penobatan gelar adat bilan salih. Menurut Muchtar Hadis (2006) salah satu tokoh seniman Kerinci menyatakan bilan salih adalah gelar adat yang di sandang oleh anak batino (kaum perempuan) yang bertugas untuk mendampingi tugas pemangku adat yang menyandang gelar sko, yang terdiri dari: Depati, Ninik Mamak, dan Anak Jantan yang disandang oleh kaum laki-laki. Upacara penobatan bilan salih, merupakan upacara yang dilakukan oleh masyarakat Siulak Mukai Tengah secara turun-temurun yang disebut dengan upacara Naik Mahligai. Pada zaman dahulu tarian ini memiliki fungsi sebagai : (1) sarana komunikasi kepada roh nenek moyang; (2) sarana komunikasi kepada masyarakat; (3) sarana penyembuhan; (4) sarana pengungkapan rasa syukur; dan (5) sebagai sarana pengikat solidaritas masyarakat setempat khususnya antar penyandang gelar adat.
 
Namun, seiring dengan kemajuan zaman upacara ini ditinggalkan oleh masyarakat Kerinci. Hal ini disebabkan karena faktor  ideologi, teknologi, letak geografis, sosial, ekonomi dan pendidikan masyarakat Kerinci yang berubah. Karena faktor-faktor tersebut maka, tari ini mengalami perubahan fungsi dan bentuk penyajiannya. Seperti yang kita ketahui juga bahwa pada hakekatnya karya seni itu harus berkembang sejalan dengan arus perubahan zaman.  Perubahan bentuk dan penyajian tari Niti Naik Mahligai di lakukan oleh masyarakat pendukung tari ini, mereka menata tari ini sedikit demi sedikit. Selanjutnya pada tahun 1999 bersama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kerinci bidang kesenian menata kembali tari ini menjadi tari Niti Naik Mahligai yang berkembang saat ini.
Secara keseluruhan tari Niti Naik Mahligai, masih memiliki bentuk penyajian yang sederhana, seperti gerak, musik, pola lantai, property, tata rias dan tata busana. Kesederhanaan bentuk penyajian tari ini merupakan ciri khas yang dimiliki tari tradisional kerakyatan pada umumnya. Selain itu, tari ini memiliki keunikan dari tari-tarian yang berkembang di Indonesia saat ini, yaitu adanya atraksi yang menantang dan berbahaya. Pada saat dimulai atraksi, saat inilah para penari mulai dirasuki roh-roh nenek moyang yang mereka percayai mendatangkan kekuatan yang melebihi kekuatan manusia. Sehingga, para penari tidak sadarkan diri atau trance, selama atraksi berlangsung.  Atraksi tersebut diantaranya:
1. Niti Gunung Kaco yaitu menari di atas pecahan kaca.
2. Niti Gunung Telo yaitu berjalan di atas mangkok-mangkok keci dan berjalan di atas batang   pisang yang diatasnya diletakkan telur.
3. Niti Gunung Tajam yaitu menari di atas bambu-bambu runcing dan paku yang telah di tata.
4. Niti Gunung Pedam yaitu menari di atas ujung pedang yang sangat runcing.
5. Niti Gunung daun yaitu menari di atas daun kelor.
6. Niti Laut Api yaitu menari di dalam bara api yang sangat panas.
Menurut Eva Bram (2006) menjelaskan bahwa, keseluruhan atraksi tersebut memiliki maksud dan makna tersendiri. Selain itu, sebelum melaksanakan pertunjukan para penari diwajibkan untuk melakukan ritual yaitu berupa persembahan terhadap nenek moyang. Agar mereka mendapat perlindungan dan diharapkan pertunjukan dapat berjalan dengan lancar. Oleh karena itu, pada saat pementasan mereka jarang yang mengalami cidera.
 
Di samping, atraksi yang unik, para penari tari Niti Naik Mahligai menggunakan kostum tari yang unik juga yaitu pakaian adat daerah Kabupaten Kerinci yang berwarna hitam dengan hiasan sulaman benang warna kuning pada dada. Sedangkan untuk hiasan kepalanya menggunakan kuluk atau sungkun yang berwarna hitam dan dihiasi dengan manik-manik dan bunga sebagai penghias. Para penari menggunakan kain sebagai bawahan yang biasa di sebut dengan tahhap, kain yang digunakan adalah kain songket yang berwarna merah. Tentunya kostum yang digukan semuanya memiliki makna simbolis. 
 
Pada saat ini tari Niti Naik Mahligai telah mulai dikenali banyak masyarakat, bukan hanya saja masyarakat di daerah Kerinci saja namun masyarakat di luar kabupaten Kerinci pun sudah mulai mengenal tari ini. Hal ini ditunjukkan dengan penampilan pertunjukan tari Niti Naik Mahligai ke beberapa daerah seperti di Taman Mini Indonesia Indah dan di daerah lainnya. Sebagai bentuk usaha untuk meningkatkan promosi produk wisata baik negeri maupun luar negeri tari Niti Naik Mahligai mendapat perhatian dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kerinci. Seperi diadakan iven Festival Masyarakat Peduli Danau Kerinci yang menjadi agenda rutin daerah Kerinci. Sebagai peneliti dan penulis, penulis berharap banyak kepada masyarakat dan pemerintah untuk dapat mempertahankan, mengembangkan dan melestarikan seni tradisi yang kita miliki, sebagai warisan dari nenek moyang dan untuk anak cucu kita.

Sabtu, 12 November 2016

Sejarah Pramuka


SEJARAH PRAMUKA DI DUNIA


Istilah pramuka hanya digunakan di Indonesia sedangkan di dunia pramuka disebut Scout.  Gerakan yang juga disebutScouting atau Scout Movement ini bertujuan untuk pengembangan para pemuda secara fisik, mental, dan spiritual. Sejarah pramuka di dunia sendiri dimulai pada 25 Juli 1907 ketika Lord Robert Baden Powell saat itu sebagai Letnan Jendral tentara Inggris untuk pertama kalinya mengadakan perkemahan pramuka di pulau Brown Sea, Inggris selama 8 hari. Selanjutnya pada tahun 1908 Baden Powel menulis buku tentang prinsip dasar kepramukaan “Scouting for Boys” yang artinya pramuka untuk laki-laki.
Pada tahun 1912 dengan babtuan adik perempuan Baden Powell bernama Agnes maka terbentuklah organisasi pramuka untuk perempuan dengan sebutan “Girls Guides“. Organisasi kepramukaan perempuan ini pun dilanutkan oleh istri Baden Powell.
Selanjutnya di tahun 1916 di dirikanlah kelompok pramuka siaga dengan nama CUB (anak srigala). Pedoman kegiatan yang dilakukan berdasarkan dari sebuah buku yang berjudul  “The Jungle Book” karangan Rudyard Kipling.
Pada tahun 1918 Baden Powell kembali membentuk Rover Scout, yaitu organisasi pramuka bagi mereka yang telah berusia 17 tahun. Selang empat tahun kemudian yaitu tahun 1922 Powel menerbitkan buku menerbitkan buku ”Rovering To Succes” buku ini menggambarkan seorang pemuda yang harus mengayuh sampannya menuju kepantai bahagia.
Jambore Dunia
Di tahun 1920 merupakan tahun yang sangat berpengaruh dalam sejarah pramuka dimana untuk pertama kalinya di adakan Jambore di dunia. Selain itu tahun ini juga dibentuk Dewan Internasional pramuka yang beranggotakan 9 orang biro dan biro pusat di London. Biro pramuka putra dunia memiliki lima kantor wilayah yaitu Costa Rica, Mesir, Filipina, Swiss, dan Nigeria. Sedangkan untuk putri memiliki lima kantor pusat sekretariat di London dan biro kantor wilayah di Amerika Latin, Arab, Asia Pasifik, dan Eropa.
Jambore Dunia ke-I di laksanakan di Olympia Hall, London. Dalam kegiatan tersebut diundang pula peserta dari 27 Negara dan pada saat itu Baden Powell  diangkat sebagai Bapak Pandu Sedunia (Chief Scout of The World ).
Pelaksanaan Jambore dunia selanjutnya:
tahun 1924 ke II                 di Ermelunden, Copenhagen, Denmark


  • Tahun 1929 ke III               di Arrow Park, Birkenhead, Inggris
  • Tahun 1933 ke IV                di Godollo, Budapest, Hongaria
  • Tahun 1937 ke V                 di Vogelenzang, Blomendaal, Belanda
  • Tahun 1947 ke VI                di Moisson, Prancis
  • Tahun 1951 ke VII               di Salz Kamergaut, Austria
  • Tahun 1955 ke VIII             di Sutton Park, Sutton coldfild, Inggris
  • Tahun 1959 ke IX                di Makiling, Philipina
  • Tahun 1963 ke X                 di Marathon, Yunani
  • Tahun 1967 ke XI                di Idaho, Amerika Serikat
  • Tahun 1971 ke XII               di Asagiri, Jepang
  • Tahun 1975 ke XIII             di Lillehammer, Norwegia
  • Tahun 1979 ke XIV             di Neishaboor, Iran (tetapi dibatalkan)
  • Tahun 1983 ke XV              di Kananaskis, Alberta, Kanada
  • Tahun 1987 ke XVI             di Cataract Scout Park, Australia
  • Tahun 1991 ke XVII            di Korea Selatan
  • Tahun 1995 ke XVIII          di Belanda
  • Tahun 1999 ke XIX             di Chili, Amerika Serikat
  • Tahun 2003 ke XX              di Thailand

SEJARAH PRAMUKA DI INDONESIA


Ternyata gagasan organisasi Boden Powell tersebut dalam waktu singkat menyebar ke berbagai negara termasuk Belanda. Di belanda gerakan pramuka dinamai Padvinder. Pada masa itu Belanda yang menguasai Indonesia pun membawah gagasan itu ke Indonesia. Akhirnya mereka pun mendirikan organisasi tersebut di Indonesia dengan nama NIPV (Nederland Indische Padvinders Vereeniging = Persatuan Pandu-Pandu Hindia Belanda).
Dalam perkembangan pemimpin-pemimpin gerakan nasional membentuk organisasi kepanduan dengan tujuan membentuk manusia Indonesia yang baik dan siap menjadi kader pergerakan nasional. Dalam waktu singkat muncul berbagai organisasi kepanduan antara lain JPO (Javaanse Padvinders Organizatie) JJP (Jong Java Padvindery), NATIPIJ (Nationale Islamitsche Padvindery), SIAP (Sarekat Islam Afdeling Padvindery), HW (Hisbul Wathon).
Kemudian pemerintah Hindia Belanda memberikan larangan penggunaan istilah Padvindery.  Maka K.H. Agus Salim mengganti nama Padvindery menjadi Pandu atau Kepanduan dan menjadi cikal bakal dalam sejarah pramuka di Indonesia.
Setelah sumpah pemuda kesadaran nasional juga semakin meningkat, maka pada tahun 1930 berbagai organisasi kepanduan seperti IPO, PK (Pandu Kesultanan), PPS (Pandu Pemuda Sumatra) bergabung melebur menjadi KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Pada tahun 1931 dibentuk PAPI (Persatuan Antar Pandu Indonesia) kemudian pada tahun 1938 berubah menjadi BPPKI (Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia).
Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia organisasi Kepanduan dilarang. Maka banyak dari tokoh Pandu yang beralih dan memilih masuk masuk Keibondan, Seinendan, dan PETA.
Setelah proklamasi kemerdekaan kembali dibentuk orgasisasi kepanduan yaitu Pandu Rakyat Indonesia pada tanggal 28 Desember 1945 dan menjadi satu-satunya organisasi kepanduan.
Pada tahun 1961 organisasi kepanduan di Indonesia terpecah menjadi 100 organisasi kepanduan dan terhimpun dalam 3 federasi organisasi yaitu IPINDO (Ikatan Pandu Indonesia) berdiri 13 September 1951, POPPINDO (Persatuan Pandu Puteri Indonesia) tahun 1954 dan PKPI (Persatuan Kepanduan Puteri Indonesia). Sadar akan kelemahan terpecah-pecah akhirnya ketiga federasi yang menghimpun bergabung menjadi satu dengan nama PERKINDO (Persatuan Kepanduan Indonesia).
Sejarah pramuka di Indonesia di anggap lahir pada tahun 1961. Hal tersebut didasarkan pada Keppres RI No. 112 tahun 1961 tanggal 5 April 1961, tentang Panitia Pembantu Pelaksana Pembentukan Gerakan Pramuka dengan susunan keanggotaan seperti yang disebutkan Presiden pada 9 Maret 1961.
Tentunya banyak yang bertanya, kenapa peringatan hari Pramuka di peringati pada 14 Agustus?. Hal tersebut dikarenakan pada tanggal 14 Agustus 1961 adalah hari dimana Gerakan Pramuka di perkenalkan di seluruh Indonesia, sehingga di tetapkan sebagai hari Pramuka yang di ikuti dengan pawai besar. Sebelumnya presiden juga telah melantik Mapinas, Kwarnas, dan Kwarnari

SEJARAH KOTA SUNGAI PENUH


Geografi[sunting | sunting sumber]

Kota Sungaipenuh memiliki luas keseluruhan 39.150 ha, 59,2 % atau 23.177,6 ha merupakan kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat, sedangkan sekitar 40,8% atau 15.972,4 ha baru merupakan daerah efektif perkotaan.
Curah hujan harian rata-rata kota ini dalam satu tahun sekitar 49,4 - 169,2 mm/tahun, sementara suhu harian rata-rata dalam satu tahun antara 17,2 °C – 29,3 °C dengan kelembaban udara berada pada 39 % rata-rata dalam per tahun dan kecepatan angin rata-rata dalam satu tahun sekitar 13 m/detik.
Wilayah kota ini memiliki topografi berbukit-bukit, berada pada kawasan Bukit Barisan dan hutan tropis dengan ketingian 100 - 1000 m di atas permukaan laut, dengan luas kemiringan lahan antara 0 – 20% sekitar 6.300 ha, luas daratan bergelombang dengan kemiringan antara 5 – 150% sekitar 1.295 ha, luas daratan curam bergelombang dengan kemiringan antara 16 – 400% sekitar 4.345 ha, dan luas daratan sangat curam yang bergelombang dengan kemiringan antara lebih 400% sekitar 1.295 ha.

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Secara administratif pemerintahan, kawasan kota ini dibagi atas 8 kecamatan yaitu:

Transportasi[sunting | sunting sumber]

  • Udara: Rute penerbangan komersil ke Kabupaten Kerinci telah dimulai oleh Maskapai Sky Aviation yang terbang perdana dari Bandara Sultan Thaha di Jambi ke Bandara Depati Parbo di Kerinci pada 6 Juni 2011. Kemudian maskapai Nusantara Buana Airlines (NBA) membuka rute Padang - Kerinci sejak tanggal 24 Januari 2012. Pada Maret 2012 maskapai Pacific Royale Airlines membuka pula rute penerbangan Jambi - Kerinci. Jadwal penerbangan ke Kerinci belum setiap, hanya dua kali dalam seminggu.
  • Darat: Terdapat banyak angkutan antar provinsi dan dalam provinsi yang berpusat di kota Sungai Penuh, melayani trayek jurusan antara lain, Bangko, Muara Bungo, Sarolangun, Jambi, Kuala Tungkal. Juga ke Padang, Bukittinggi, Pekanbaru bahkan Dumai. Juga ada trayek ke Bengkulu.

Pusat pendidikan[sunting | sunting sumber]

Pameran naskah dalam aksara Rencong di Sungai Penuh pada masa Hindia Belanda

Template by:

Free Blog Templates